Keripik Yang Menggoda
Selasa 17 Oktober 2017

Bendungan – Rasa gurih yang ditimbulkan keripik memang menggoda. Keripik juga menjadi salah satu upaya diversifikasi pangan agar tak ada kepunahan sumber pangan  di masa mendatang. Salah satu desa yang dapat melakukan diversifikais pangan adalah Desa Bendungan.

Warga desa Bendungan yang telah bertahun-tahun memilih usaha keripik dengan memanfaatkan pisang serta talas adalah Mutianah. Wanita lima puluh tahun ini awalnya membuka usaha keripik ini untuk memberikan peluang usaha kepada putranya yang enggan untuk bekerja. Jiwa wirausaha rupanya telah dimiliki anak Mutianah.

Dalam sehari Mutianah mampu membuat 100 bungkus keripik dengan berat antara 100-200gram per bungkus. Harga jualnya pun tergolong murah, hanya empat ribu rupiah. Dalam pemasarannya, Mutianah menggunakan para pedagang yang mengambil keripik ke rumahnya. “Harga dari saya empat ribu perbungkus nanti terserah bakul menjualnya berapa,”ujarnya. Puncak penjualan Mutianah adalah pada saat hari raya lebaran dimana Mutianah sanggup memroduksi hingga dua kali lipatnya. Mutianah berharap agar usaha semakin berkembang dan memiliki area pemasaran yang lebih luas daripada saat ini. Mutianah juga memiliki prinsip tidak akan berhutang jika masih mampu membuat sendiri.

Mutianah menceritakan anaknya enggan bekerja karena memiliki sifat pemalu dan ingin bekerja sendiri. “Anak saya ketika itu telah lulus sekolah namun karena anaknya yang pemalu enggan untuk bekerja, untuk itu saya membuka usaha ini agar dapat dikelola dengan baik olehnya,”ujarnya sambil membungkus keripik buatannya. Mutianah tak sekadar membuka usaha untuk anaknya namun dirinya telah belajar kepada adiknya di Semarang yang sukses membuka usaha ini. “Awalnya yang membuka usaha ini adalah adik saya di Semarang. Saya belajar darinya usaha ini mulai dari bagaimana memilih pisang dan talas yang baik untuk dibat keripik serta bagaimana menggorengnya,”ujarnya lebih lanjut. Ketekunannya belajar membuahkan hasil yang menyenangkan. Dirinya tidak menemui kendala apapun dalam menekuni usaha ini. Kini usaha ini telah memiliki seorang yang membantunya dengan sistem bayaran harian.

Dalam usaha ini semua bahan baku Mutianah disetorkan oleh seorang pemasok yang telah lama bekerjasama dengan dirinya. “Ya, ada pemasok namun karena sudah cukup lama bekerja sama sehingga sudah saling mengerti,”ungkapnya. Mutianah memilih menggunakan pisang raja nangka. Pisang raja nangka memiliki tekstur yang lembut, rasa yang sangat manis dan aroama yang harum dibandingkan buah pisang lainnya dan memiliki ukuran yang sedang yaitu tidak terlalu besar ataupun terlalu kecil. Pisang raja memiliki getah yang lebih sedikit dan memiliki tekstur lebih lembut ketika dimakan. Sesisir pisang raja ini memiliki batang yang lunak dan berwarna kehijauan, kulit pisang yang lebih tebal. Sesisir pisang raja akan tersusun rapi dengan susunan menjari. Pisang raja yang belum matang biasanya berwarna hijau dan akan berubah menjadi warna kuning ketika matang. Pisang ini ketika digoreng akan menimbulkan rasa yang renyah serta tidak terlalu banyak menyerap minyak. “Pisang yang digunakan adalah pisang yang belum terlalu masak karena jika nanti digoreng tidak akan terlalu gosong dan meyerap minyak,”ujarnya.

Berita Terkini
Dana Desa Tegalrejo-Bendungan
Kamis 18 Mei 2017